Rabu, 21 Mei 2014

Seharusnya ...

Seharusnya dari awal aku tak pernah melakukan itu. Mencoba masuk dalam kehidupanmu dan bermain-main disana. Seharusnya dari awal aku tak pernah penasaran dengan kehidupanmu. Seharusnya saat kamu datang waktu itu aku mengacuhkanmu. Saat kamu tertawa dihadapanku aku tak memperhatikanmu. Dan seharusnya kini otakku tak kubiarkan untuk leluasa memikirkanmu.

Kamu adalah kamu. Dengan duniamu sendiri yang tak seluruhnya ku tahu. Dengan sikap istimewamu yang membuatku tak pernah bisa melupakannya. Dan, aku adalah aku. Yang seharusnya tak mencoba masuk dalam kehidupanmu. Yang seharusnya tak pernah berpikir mendapatkan perhatian darimu. Karena seharusnya aku sadar. Aku hanya temanmu.

Status itu terasa menyakitkanku. Aku terkatung-katung dalam anganku sendiri. Bertanya-tanya kemana arah kita selanjutnya. Haruskah aku menurunkan jangkarku untuk tetap bersama denganmu. Atau menarik layarku dan pergi dari kehidupanmu.

Sesungguhnya aku tak pernah siap pergi dari kehidupanmu. Aku seperti nelayan, dan kamu adalah ikannya. Sejauh mana pun aku pergi, aku sadar jika aku akan tetap mencarimu. Aku akan berusaha mendapatkanmu. Navigasiku hanya akan bergerak, berputar, dan berusaha menemukanmu.

Seharusnya aku tak pernah berusaha melakukan itu lagi. Datang dan pergi. Dan aku sadar aku hanya sedang berusaha menyakiti. Menyakiti kamu dan menyakiti aku sendiri. 

Seharusnya aku memang tak pernah menganggap lebih perhatianmu yang mungkin saja tak hanya kamu berikan padaku. Tak menganggap berarti setiap barisan kalimatmu yang seharusnya hanya lelucon saja. Tak berharap lebih saat kamu dengan senyuman manismu memintaku menunggumu di malam-malam sepi.

Seharusnya aku sadar sejak awal, jika aku salah telah menanggapimu lebih. Salah karena aku bukan hanya berusaha menjebak diriku sendiri dalam perasaan tak nyatamu. Aku telah membawamu ikut dalam pelayaran berbahaya ini. Mengajakmu untuk mengayuh perahu agar bisa pergi jauh. Aku telah mengajakmu bermain dalam perasaan yang tak seharusnya.

Dan sekarang, setelah semuanya terlambat. Aku hanya bisa terduduk diam. Merasa bahwa kamu membenciku. Menganggap jika kamu telah berusaha menjauhiku. Malam-malam ku hanya berisi senandung patah hati yang membuat rasa sesak ini makin menjadi. Seharusnya aku memang tak pernah mengenalmu, agar aku tak pernah merasakan bagaimana rasanya air mataku mengalir di pipi begitu saja.

Tetapi aku sadar, kamu yang menggantung seperti awan, terasa nyata untuk aku gapai dalam mimpiku. Rasanya sulit mengangkat jangkar dari lautan terdalam buatanmu. Menaikkan layar ditengah angin yang menyesakkan ini. Hingga akhirnya aku sadar semua ini terasa sia-sia.

Kumohon jangan pergi

Kumohon jangan pernah menjauh lagi