Seharusnya dari awal
aku tak pernah melakukan itu. Mencoba masuk dalam kehidupanmu dan bermain-main
disana. Seharusnya dari awal aku tak pernah penasaran dengan kehidupanmu.
Seharusnya saat kamu datang waktu itu aku mengacuhkanmu. Saat kamu tertawa
dihadapanku aku tak memperhatikanmu. Dan seharusnya kini otakku tak kubiarkan
untuk leluasa memikirkanmu.
Kamu adalah kamu.
Dengan duniamu sendiri yang tak seluruhnya ku tahu. Dengan sikap istimewamu
yang membuatku tak pernah bisa melupakannya. Dan, aku adalah aku. Yang
seharusnya tak mencoba masuk dalam kehidupanmu. Yang seharusnya tak pernah
berpikir mendapatkan perhatian darimu. Karena seharusnya aku sadar. Aku hanya
temanmu.
Status itu terasa
menyakitkanku. Aku terkatung-katung dalam anganku sendiri. Bertanya-tanya
kemana arah kita selanjutnya. Haruskah aku menurunkan jangkarku untuk tetap
bersama denganmu. Atau menarik layarku dan pergi dari kehidupanmu.
Sesungguhnya aku tak
pernah siap pergi dari kehidupanmu. Aku seperti nelayan, dan kamu adalah
ikannya. Sejauh mana pun aku pergi, aku sadar jika aku akan tetap mencarimu.
Aku akan berusaha mendapatkanmu. Navigasiku hanya akan bergerak, berputar, dan
berusaha menemukanmu.
Seharusnya aku tak
pernah berusaha melakukan itu lagi. Datang dan pergi. Dan aku sadar aku hanya
sedang berusaha menyakiti. Menyakiti kamu dan menyakiti aku sendiri.
Seharusnya
aku memang tak pernah menganggap lebih perhatianmu yang mungkin saja tak hanya
kamu berikan padaku. Tak menganggap berarti setiap barisan kalimatmu yang seharusnya
hanya lelucon saja. Tak berharap lebih saat kamu dengan senyuman manismu
memintaku menunggumu di malam-malam sepi.
Seharusnya aku sadar
sejak awal, jika aku salah telah menanggapimu lebih. Salah karena aku bukan
hanya berusaha menjebak diriku sendiri dalam perasaan tak nyatamu. Aku telah
membawamu ikut dalam pelayaran berbahaya ini. Mengajakmu untuk mengayuh perahu
agar bisa pergi jauh. Aku telah mengajakmu bermain dalam perasaan yang tak
seharusnya.
Dan sekarang, setelah
semuanya terlambat. Aku hanya bisa terduduk diam. Merasa bahwa kamu membenciku.
Menganggap jika kamu telah berusaha menjauhiku. Malam-malam ku hanya berisi
senandung patah hati yang membuat rasa sesak ini makin menjadi. Seharusnya aku
memang tak pernah mengenalmu, agar aku tak pernah merasakan bagaimana rasanya
air mataku mengalir di pipi begitu saja.
Tetapi aku sadar,
kamu yang menggantung seperti awan, terasa nyata untuk aku gapai dalam mimpiku.
Rasanya sulit mengangkat jangkar dari lautan terdalam buatanmu. Menaikkan layar
ditengah angin yang menyesakkan ini. Hingga akhirnya aku sadar semua ini terasa
sia-sia.
Kumohon jangan pergi
Kumohon jangan pernah menjauh
lagi